Lost in Punch-Drunk Adaptation of a Spotless Love

Joko's posts with tag: joni's promise

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag joni's promise
Blog EntryJoni On The Road, Part 2: South AfricaJun 28, '06 4:17 PM
for everyone



Dari semua festival film yang saya ikuti, pengalaman di festival ini ternyata jadi yang paling inspiring dan membuka mata.

Saat tiba di bandara Durban, saya jadi lebih yakin bahwa bandara Cengkareng kita yang tercinta adalah salah satu yang terburuk di dunia. Durban disebut sebagai "playground" South Africa yang menjadi tujuan wisata terbesar. Kesan pertama saya adalah kekaguman.


Pantai di Durban



Bangkai kapal yang diubah jadi restoran dan akuarium Sea World



Tempat Janji Joni diputar



Hotel tempat saya menginap


Tapi tak berapa lama kemudian, ternyata pikiran saya tentang Afrika Selatan jadi berbagai macam.

Setelah menaruh barang-barang di hotel, saya bersiap-siap untuk menyusuri kota dengan kamera foto di tangan. Salah seorang panitia bertanya saya mau kemana.

"Motret kota," kata saya.
"Nooo... Kamu nggak bisa jalan-jalan di kota sendiri. Apalagi bawa kamera seperti itu."

Saya masih tidak percaya kalau keadaan di situ segitu tidak amannya. Padahal dari kulitnya, kota itu terlihat sangat tenteram. Saya bertanya kepada orang-orang lain yang ada di situ bagaimana sebenarnya keadaan kota itu.

Di Afrika Selatan, pengangguran besarnya mencapai 40 persen. Saat apartheid, sistem pembedaan rakyat berdasarkan warna kulit (kulit putih, hitam, india, warna lain) dihapuskan tahun 1991, bisnis-bisnis mulai meninggalkan negara ini karena situasi politik dan sosial yang tidak menentu.

Sistem apartheid juga membuat geografi Afrika Selatan berdasarkan warna kulit penduduk dan warga kulit hitam dipaksa tinggal di luar kota. Tempat tinggal mereka disebut township.

Kalau di festival-festival lain saya hanya mengunjungi tempat-tempat yang happy-happy joy-joy, di festival ini saya mengunjungi salah satu township karena salah satu venue pemutaran film berada di sana. Saya bisa melihat langsung kehidupan penduduk yang sangat keras. Semua yang saya lihat di film Tsotsi, film dari Afrika Selatan yang memenangkan Oscar untuk Best Foreign Film di Oscar tahun ini, adalah otentik.

Di township-township, yang karena jauh dari sumber daya alam dan bisnis, para penduduknya sangat miskin. Kejahatan sangat tinggi. Bahkan sampai sekarang, kemiskinan dan angka kejahatan yang ditinggalkan dari sistem Apartheid masih sangat terasa.



Township Soweto



Perbedaan strata sosial di Indonesia juga sangat jauh, tapi di Afrika Selatan hal ini lebih mencolok. Saya kemudian membanding-bandingkan Indonesia dengan Afrika Selatan. Dan secara tidak sadar, saya jadi tertarik dengan sejarah bangsa saya sendiri. Saya sendiri kaget, karena selama ini saya paling tidak tertarik dengan yang namanya sejarah. Saya tidak peduli jika saya terdengar naif atau bahkan pretensius, tapi saya sadar bahwa kepercayaan saya selama ini bahwa saya hanya perlu memikirkan hari ini dan besok, tidak sepenuhnya benar.

Satu hal lagi yang membuat saya berpikir, sekalipun orang-orang yang tinggal di township sangat miskin, tapi wawasan mereka lebih luas. Walaupun kedengarannya picik dan terlalu menggeneralisasi, saya mesti bilang bahwa orang-orang yang tinggal di township "lebih cerdas" ketimbang orang-orang di Indonesia yang hidup dengan kondisi yang sama. Saya jadi bertanya-tanya lagi, kenapa. Apakah karena kita dulu dijajah Belanda sedangkan mereka dijajah Inggris?

Tapi yang paling membuat saya bertanya-tanya, dalam hubungan saya sebagai filmmaker, kenapa Afrika Selatan bisa menghasilkan film-film yang lebih bermutu? Tahun ini Tsotsi menang Oscar. Tahun lalu, Yesterday dapat nominasi film asing terbaik. Menurut teman saya Jeffrey, seharusnya para filmmaker Indonesia sudah menghasilkan banyak film-film bagus mengingat referensi untuk semua jenis film bisa didapat hanya dengan 5000 Rupiah di Menteng atau Mangga Dua. Afrika Selatan tahun lalu hanya menghasilkan 13 film sedangkan kita 41. Kenapa mereka bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa seperti Tsotsi? Saya jadi malu sebagai filmmaker. Sementara itu, kepala saya semakin penuh dengan pertanyaan.











Blog EntryJoni On The Road, Part 1: SlovakiaJun 28, '06 2:39 PM
for everyone
INTRODUCTION

Sejak dirilis April 2005, Janji Joni telah diundang di lebih 20 festival film internasional. International Art Film Festival ke-14 di Trencianske Teplice, Slovakia, yang diadakan akhir bulan Juni 2006 adalah festival adalah festival yang terakhir saya hadiri untuk Janji Joni karena saya harus sudah harus sibuk menyiapkan film kedua. Supaya saya bisa bebas bercerita tanpa bisa dibaca oleh para penyelenggaranya, catatan perjalanan Joni di festival-festival ini akan saya tulis dalam bahasa Indonesia. Dan juga supaya pihak Angkasa Pura sadar kalau kita punya bandara ter-shitty di dunia (mungkin kedua setelah Pyongyang. Helloo... kemana itu airport tax?). Mudah-mudahan jurnal ini akan berisi less vanity, more information. Enjoy.




--------------------------------------------------------------------------








Terus terang, saya lebih suka festival kecil karena lebih keurus oleh panitianya. Artfilm International Film Festival yang sudah diadakan 14 kali ini bertempat di kota kecil Trencianske Teplice (baca: Trencianske Ceplitske), 90 menit naik mobil dari ibukota Bratislava. Nico yang lagi libur kuliah kali ini bisa ikut. Hari pertama nyampe, kita sempat takjub karena para inhabitant kota ini umurnya di atas 60 tahun. Ternyata memang ini kota tujuan wisata orang-orang tua karena tenang banget. Kota ini juga dikenal sebagai kota 'spa" karena banyak spa-nya. Di kota ini banyak dijumpai sumber lumpur belerang dan mata air panas. Untungnya setelah festivalnya mulai, orang-orang muda mulai berdatangan. Nico pun akhirnya mengakui kalau rumor tentang perempuan-perempuan Slovakia yang cantik-cantik itu ternyata benar.


Venue festival


Spectators festival

Festival dibuka dengan cukup meriah, sekalipun panggungnya hanya 1/3 besar panggung FFI. It's all about lighting, ternyata. Dan saya cukup lega karena Menteri Pariwisata mereka pidatonya tidak membosankan seperti para pejabat kita.


Pembukaan. Yang paling kanan adalah sutradara Andrzej Vajda

Screening Janji Joni sendiri mendapat sambutan yang hangat. Teater hampir penuh terisi dan para penonton bertepuk tangan panjang. Kata salah seorang panitianya "Wow. That's the first". Audience Slovakia adalah audience yang paling pemalu dibanding penonton-penonton di festival lain karena pertanyaan-pertanyaan dari mereka cuma sedikit (kebanyakan mereka tidak percaya kalau Janji Joni hanya di-shoot dalam 18 hari). Sekalipun mereka selalu tertawa kalau saya dan Nico berbuat bodoh di panggung.

Seperti biasa, saya dan Nico selalu gagal untuk menutupi idiosyncrasies kami. Dalam festival ini, dimulai dengan Nico. Selama festival, banyak aktor-aktor memakai kostum para tokoh-tokoh terkenal dan Nico sibuk bilang ke orang-orang kalau dia melihat ada yang memakai kostum Boy George. Padahal orang itu memakai kostum pahlawan nasional Slovakia. Tapi emang dia nggak bisa disalahin juga sih.





Karena miskomunikasi, tiket pulang Nico ternyata sehari lebih cepat dari saya. Saya lebih beruntung karena bisa jalan-jalan dulu di Bratislava. Ada sebuah daerah yang dikenal sebagai old town. Filmmaker kita memang kurang beruntung karena kita cuma punya lokasi suting di satu jalan di daerah kota yang sudah dipakai semua produksi film, iklan, musik video. Coba saja kalau kita punya daerah seperti old town ini.


Daerah "Old Town" di Bratislava

Saya di festival ini selama lima hari, lebih terasa seperti liburan. Setelah itu pulang untuk menyelesaikan kerjaan yang sudah menumpuk.











© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help